Sahabat trader Indonesia, dalam artikel ini kita akan membahas beberapa price pattern yaitu Pola Triple top dan triple bottom kemudian dilanjutkan dengan pola Head and Shoulders dan Inverse Head and Shoulders.

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya dengan judul Pembahasan Detail Pola Double Top dan Double Bottom, yang merupakan satu rangkaian dalam reversal pattern.

Pola Triple Top dan Triple Bottom

Secara prinsip kedua pola ini tidak terlalu jauh perbedaannya dengan pola double top maupun double bottom. Hanya ada tambahan satu puncak pada baru pada pola triple top puncak dan pola triple bottom  memiliki tiga lembah.

Pola triple top ini memberikan tanda akan terjadinya perubahan tren yang semula uptrend menjadi downtrend, sedangkan pola triple bottom kebalikannya, yaitu sebagai pertanda akan terjadi perubahan tren dari downtrend menjadi uptrend.

Sebagai catatan untuk sahabat trader Indonesia, ketiga titik lembah atau puncak harga pada pola ini tidak harus berada pada level harga yang sama persis, namun perbedaannya juga tidak boleh terlalu signifikan atau maksimal perbedaannya tidak lebih dari 20%. Dengan kata lain, jika dilihat sekilas, ketiga titik lembah tersebut terlihat selevel.

Bila pola triple top dan triple bottom ini terbentuk pada grafik sebuah pair mata uang, pola ini memberikan sinyal yang lebih kuat dibanding pola double top dan double bottom tentang  kemungkinan untuk terjadinya reversal atau pembalikan tren.

Pola Head and Shoulders dan Inverse Head and Shoulders

Pola ini termasuk dalam pola reversal yang memiliki tingkat akurasi keberhasilan cukup tinggi. Pola ini merupakan penerapan dari analisa peak-and-trough yang dikemukakan dalam Teori Dow, misalnya  sebuah tren kenaikan  harga dilihat sebagai sebuah periode dimana terjadinya kenaikan harga atau peaks dan trough atau penurunan harga yang berulang – ulang.

Pola Head and Shoulders

Pola ini dinamakan head and shoulders karena bentuk dari polanya yang mirip dengan bentuk kepala dan bahu. Di kalangan trader pemula yang baru saja mulai melakukan analisa teknikal secara mandiri sering terjadi salah persepsi dimana pola ini dianggap sebagai pola triple top atau triple bottom.

Karakteristik pola Head and shoulder

– Langkah pertama dalam proses terbentuknya pola ini dimulai dari shoulder kiri, yang terbentuk ketika harga mencapai puncak tertinggi baru kemudian mengalami koreksi lagi sehingga membuat harga terendah baru.

– Langkah kedua adalah terbentuknya formasi bentuk kepala atau head, yang terjadi ketika harga berhasil melebihi puncak harga tertinggi sebelumnya (shoulder kiri), lalu harga kembali mengalami koreksi dan bergerak kembali mendekati harga terendah yang terbentuk pada shoulder kiri.

– Langkah ketiga adalah pembentukan shoulder kanan, yang terjadi ketika harga bergerak naik lagi tetapi kenaikkannya tidak berhasil melewati harga tertinggi pada head yang diikuti terjadinya penurunan harga lagi dimana level harga yang dicapai hampir sama dengan titik harga di shoulder kiri.

– Target harga dari pola ini diukur berdasarkan ketinggian dari pola head and shoulders, yaitu jarak antara puncak head dengan garis neckline.

Pola ini akan menjadi sebuah sinyal yang semakin kuat apabila terjadi disaat harga sedang mengalami kondisi Bullish atau sedang mengalami tren kenaikan harga. Sahabat trader Indonesia juga dapat menambahkan indikator volume, karena ketika terjadi penembusan harga pada level neckline yang diikuti oleh pergerakan volume perdagangan yang cukup besar mengindikasikan terjadinya aksi SELL atau jual secara besar – besaran.

Pola head and shoulders ini dianggap gagal apabila terjadi pullback dan terbentuk harga baru yang melebihi dari level neckline.

 

Inverse head and shoulders

Pada proses terbentuknya dari pola Inverse Head and shoulders ini sama dengan pola head and shoulder hanya formasinya saja yang terbalik.

Karakteristik dari pola Inverse Head and Shoulders

– Diawali dengan terbentuknya shoulder kiri, yang terjadi ketika harga turun ke level terendah baru lalu terjadi rebound sehingga harga kembali ke level yang lebih tinggi.

– Proses pembentukan head, terjadi ketika harga berhasil membentuk harga terendah baru dibandingkan level harga terendah shoulder kiri, yang diikuti oleh terjadinya rebound sehingga harga kembali mendekati level harga tertinggi pada shoulder kiri. Pergerakan kelevel tertinggi pada shoulder kiri ini yang membentuk garis neckline pada pola ini.

– Langkah ketiga adalah pembentukan formasi shoulder kanan, dimana adanya aksi jual mendorong harga bergerak turun, namun gagal menembus harga terendah pada head, yang lalu diikuti oleh kembalinya harga ke garis neckline.

– Target harga pada pola ini diukur dari jarak antara ujung head dengan garis neckline.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *